MERAWAT KEYAKINAN : HARTA RAMPASAN PERANG BADAR


 

MERAWAT KEYAKINAN : HARTA RAMPASAN PERANG BADAR

Perang Badar, tentu mayoritas kita sudah pernah mendengar ceritanya saat duduk di bangku sekolah. Perang yang sangat heroik bagi kaum muslimin kala itu mengingat jumlah tentara muslimin  hanya sekitar 313 orang melawan 900-1000 tentara kaum musrikin Quraisy. Perang Badar terjadi setelah kaum muslimin hijrah ke madinah sekitar 10 tahun pasca kenabian, setelah sekian tahun umat islam berdakwah secara sembunyi-sembunyi dan penuh dengan penyiksaan dari orang kafir Quraisy.

Perang Badar menjadi tonggak awal bagi dakwah umat islam kala itu sebelum menuju gelombang besar orang-orang masuk islam mengakui Allah Tuhan Yang Esa dan Rasulullah sebenar-benar utusan-Nya. Karena dengan keberhasilan kaum muslimin mengalahkan kaum kafir Quraisy ini membuat daya tawar kelompok islam saat itu menjadi di pertimbangan. Dari yang sebelumnya di pandang sebelah mata, terkesan lemah dan mudah di tindas menjadi kelompok yang perlu di perhitungkan secara sosial, ekonomi dan politik. Kondisi sosial saat itu memang penuh dengan fanatisme kelompok dan penindasan. Pada dasarnya mayoritas masyarakat makkah madinah mengakui bahwa tidak ada kebohongan yang dibawa oleh Rasulullah, tetapi mereka enggan mengimani karena mengganggu posisi sosial mereka yang saat itu bisa berbuat sesuka hati dalam menindas orang-orang disekitarnya demi kenikmatan pribadi mereka sendiri. Sedangkan islam datang dengan dengan akhlak baik dan memerangi sifat-sifat penindasan yang memang lumrah terjadi saat masa itu. Maka pasca kemenangan kaum muslimin di perang Badar membuat orang-orang kelompok minoritas, lemah atau bahkan budak berani terang-terangan masuk islam karena merasa bahwa umat islam saat ini kondisinya sudah jauh lebih kuat dibanding sebelumnya dan mereka menjadi tidak khawatir akan siksaan dari orang-orang Quraisy.

Cerita Perang Badar memang sangat menarik, karena banyak nilai yang mampu menjadi penguat iman kita sebagai umat muslim. Mulai dari betapa banyaknya bantuan Allah yang terjadi saat perang Badar yang menandakan bahwa Allah selalu membela hamba-Nya yang menegakkan Agamanya. Secara matematika memang mustahil  kaum muslimin bisa menang, karena secara jumlah tentara sangat jauh timpang 313 orang melawan 900-1000 yang artinya 1 orang muslim harus melawan 3 orang kafir Quraisy. Secara armada juga sangat timpang, dimana kafir Quraisy membawa kurang lebih 100 penunggang kuda sedangkan dari pihak muslim hanya ada 2 penunggang kuda. Tapi Allah menunjukkan kuasanya dan memenuhi janjinya dalam membela hamba-Nya dengan mengirim pasukan malaikat dibawah komando Jibril untuk membantu kaum muslim mengalahkan kafir Quraisy. Keberadaan pasukan malaikat ini juga di ungkapkan oleh kesaksian orang-orang Quraisy yang melihat rombongan pasukan kuda yang gagah-gagah dan membuat mereka kocar kacir bahkan banyak jatuh korban jiwa dari kaum Quraisy.

Dari sekian bagian cerita heroisme perang Badar, menurut saya yang masih relevan dan perlu di renungkan oleh kita sebagai pengingat yaitu ketika para sahabat berselisih tentang harta rampasan perang. Pada umumnya peperangan, pihak yang menang selalu mampu merampas harta benda peninggalan pihak yang kalah. Termasuk saat Perang Badar ini harta rampasan dari kaum Quraisy sangat banyak. Para kaum muslimin terpecah menjadi 3 kelompok terkait harga rampasan (gonimah) sesuai dengan perannya selama perang dan semuanya merasa paling berhak. Kelompok satu yaitu kelompok yang mengumpulkan harta orang kafir Quraisy, merasa paling berhak karena kalau bukan mereka yang mengumpulkan maka kaum muslimin tidak akan mendapat harta rampasan. Kelompok kedua yaitu kelompok garda depan yang perang mati-matian melawan musuh. Kelompok ini merasa paling berhak karena jika bukan usahanya melawan musuh maka kelompok pertama tidak bisa mengambil harta rampasan. Dan terakhir adalah kelompok yang menjaga Rasulullah di dalam tandanya, mereka berpendapat paling berhak karena menjaga keselamatan Rasulullah tentu lebih utama untuk kelangsungan dakwah umat islam saat itu.

Kondisi ini tentu juga cukup sering kita temui di lingkungan sekitar atau bahkan lingkungan kerja kita. Yang mana satu bagian merasa lebih berjasa daripada yang lain. Sifat sering merasa lebih dari yang lain ini pada akhirnya memang cenderung membawa madharat yang lebih banyak dari pada manfaat untuk suatu kelompok secara utuh. Padahal jika kita mau mengambil jarak untuk melihat realitas yang lebih luas akan kelihatan kalau semua memiliki perannya masing-masing yang sama pentingnya.Contoh sederhana,  pekerjaan itu setidaknya terbagi menjadi 2 jenis yaitu yang menguras tenaga fisik dan yang menguras tenaga pikiran. Pekerjaan bersih-bersih yang kelihatannya simpel dan hanya memerlukan tenaga, faktanya juga belum tentu mampu dilakukan oleh semua orang terutama yang saat ini jenis pekerjaannya menggunakan pikiran. Buktinya apakah semua orang mampu rutin bersih-bersih seluruh rumah setiap harinya jika kegiatan bersih-bersih dianggap pekerjaan remeh dan mudah dilakukan oleh semua orang? Lantas apakah orang yang pekerjaannya hanya bersih-bersih masih relevan kalau di pandang sebelah mata?

Maka dari itu semoga kita semua mampu menghargai orang-orang disekitar kita. Jangan sampai perasaan merasa lebih dari orang lain di rawat terlalu lama dalam hati. Semisal pun muncul perlu segera di reset ulang dengan mengingat bahwa semua punya porsinya masing-masing, bahkan kita mampu berbuat lebih pun tidak lepas dari rahmat Allah sehingga mampu melakukan pekerjaan yang kita rasa memiliki dampak lebih besar dari yang lain.  Jika perselisihan akibat merasa lebih dari yang lain terus dirawat tentu menjadi ribet dan berdampak pada banyak hal. Kondisinya berbeda dengan saat perang Badar, saat itu masih ada Rasulullah yang jelas benar setiap perkataannya karena selalu mendapat petunjuk dari Allah. Sehingga opsi solusi yang ditawarkan dari permasalahan harta rampasan dapat di terima dengan baik oleh semua kaum muslimin saat itu. Sedangkan sekarang? kita memiliki keterbatasan semua, ketika ada pihak yang berselisih dan semuanya merasa paling benar sepertinya setiap opsi solusi yang kita tawarkan sulit diterima oleh keduanya karena mencari opsi solusi yang mampu menyenangkan semua pihak bukanlah hal mudah atau jangan-jangan memang tidak mungkin ada.


Blitar, 28 Januari 2025

Sesungguhnya, olahraga angkat beban sepulang kerja dan tanpa makan dahulu itu sangat berat dan garai luwe

Related Posts:

0 Response to "MERAWAT KEYAKINAN : HARTA RAMPASAN PERANG BADAR"

Post a Comment